Sunday, January 19, 2014

London Photohunt 2013

Beberapa minggu setelah kedatanganku di London, komunitas fotografer terbesar di Indonesia menyelenggarakan event tahunan yang diberi nama FN Street Hunting dan dilaksanakan serempak di hampir seluruh pelosok nusantara. Tapi sayangnya untuk street hunting kali ini aku terpaksa gak terlibat karena sudah berada di London. Walaupun sebenarnya bisa-bisa saja untuk mengadakan event tersebut di London, tapi karena masih awam dengan peta geografis dan kebudayaan lokal yang menarik untuk di jepret, jadilah aku cuma bisa gigit jari saat street hunting berlangsung.
Tapi memang yang namanya nasib baik, kurang lebih sebulan setelah event di Indonesia diadakan, komunitas fotografer universitas se-Inggris Raya, also known as National University Photographic Society, juga mengadakan acara serupa dan kebetulan tempatnya kali ini adalah di London. Sudah pasti aku harus ikut event ini sebagai pengganti hunting jalanan tahun 2013 yang terlewatkan di Indonesia.

Karena acara ini termasuk acara yang tergolong massive, melibatkan semua peminat fotografi di seluruh universitas ataupun kampus di Inggris Raya, jadi pendaftaran juga disarankan melalui komunitas fotografi di universitas atau kampus tempat kita menimba ilmu :p (supaya koordinasi lebih gampang).
Yang jadi masalah adalah aku sama sekali gak tau tentang komunitas fotografi di universitasku, pertama aku pikir karena aku tidak mengikuti kegiatan induction, semacam ospek (tapi jauh lebih bermanfaat dibanding ospek di negara tercintah), tapi ternyata memang komunitas fotografi di universitasku ini bukanlah komunitas resmi alias komunitas yang digagas secara inisiatif doank supaya bisa mengikuti event-event seperti yang akan diadakan komunitas nasional sekelas NUPS, National University Photogaphic Society.

Dengan bantuan dari seorang kenalan di PPI-London (perkumpulan pelajar Indonesia), akhirnya aku bisa menemukan link facebook page dari komunitas kampusku, yang belakangan aku ketahui ternyata memang komunitas dadakan. Di situlah aku daftar diri untuk ikut di kegiatan photohunt NUPS karena selain lebih mudah di koordinir, harga pendaftaran juga jauh lebih murah (2.50 pound sterling) dibanding daftar on-the-spot seharga 5 pound. Sebenarnya agak risih dengan bayar-membayar, tapi apa yang kita bayar ternyata memang sebanding dengan apa yang kita dapat. 

Kalau di Indonesia, untuk mengikuti kegiatan hunting bareng seperti ini cukup dengan menghubungi kontak person dan ketemu di tempat yang ditentukan untuk langsung start ke kegiatan utama. Di London, semua sudah terorganisir! Setelah pembayaran diterima namaku sudah langsung digabungkan ke salah satu grup yang dipilih secara acak (diusahakan tidak ada orang yang saling kenal dan semua berasal dari universitas berbeda) karena selain kumpul fotografi, acara ini juga bertujuan untuk bersosialisasi dan bertukar pengetahuan antara siswa dari berbagai universitas, jurusan dan pengalaman.

On the spot

Tepat di hari-H aku dan seorang temanku yang ikut secara mendadak dan akhirnya membayar 5 pound tiba di Jubilee Garden, tepat dibawah London eye di sisi selatan sungai Thames yang tersohor. Ketua komunitas fotografer universitasku yang belum pernah ketemu langsung in-person dan ternyata terlambat hari itu sedikit membuat frustasi. Tapi tanpa dia pun, akhirnya aku bisa menemukan kelompokku berbekal beberapa lembar kertas dan 1 peta stasiun Tube Underground London.

City University Photo Society
Family Portrait

Setelah semua bergabung dalam kelompok yang terdiri dari 5 orang dan melakukan ritual foto keluarga, tiba saatnya untuk melakukan sesi hunting yang ditunggu-tunggu. Pada photohunt ini, perbedaan yang sangat kontras dengan apa yang pernah aku ikuti di street hunting Pontianak adalah adanya misi atau temuan yang harus kami capture untuk memenangkan hadiah yang nantinya diberikan kepada peraih temuan terbanyak dengan tepat sesuai dengan yang ditentukan. Walaupun sampai tulisan ini turun, aku belum dengar siapa akhirnya yang memenangkan kompetisi itu :p

Find, adalah misi yang harus kami jepret dengan kamera kami, dimana salah satu atau beberapa orang dari kelompok harus ada di dalam foto dengan misi Find tersebut. Misi lainnya adalah Theme, dimana sebelumnya telah di tentukan tema apa yang harus kita jepret dan masing-masing orang mendapatkan 2 foto tema yang harus dijepret. Find-list total ada sekitar 30 misi dan Theme-list sebanyak 10 tema. Inilah yang harus kita jepret selama seharian penuh menjelajah kota London dengan menggabungkan jalan kaki dan transportasi umum untuk menghemat waktu perjalanan. 

One of Find-list, People at Work

One of Theme-list, Clouds

One of Theme-list, Water


Selama berjalan, kami bertukar cerita dan sesekali berhenti untuk mengambil gambar entah Find ataupun Theme yang ditentukan. Aku sendiri sempat merekam beberapa gambar yang ada di dalam Find-list walaupun kami semua sepakat bahwa untuk Find-list hanya 1 orang yang mengambil gambar dengan kameranya untuk mempermudah melakukan upload foto saat submit nanti. Sementara untuk foto Theme, kami tentukan kemudian dan karenanya kami berusaha mengambil banyak gambar untuk misi Theme ini yang nantinya akan kami pilih di tempat terakhir yang kami kunjungi, Pub.

One of Harry Potter's scene location

Group 7 in St. James's Park

Find-list, Leadenhall Market


Saat hari mulai gelap, kami memutuskan untuk sesegera mungkin mengakhiri kegiatan foto kami karena selain jumlah Find-list yang 95% berhasil kami jepret dan Theme-list yang semua sudah kami dapatkan, dinginnya musim gugur juga memaksa kami semua untuk setuju mengakhiri kegiatan kami dan menuju tempat pertemuan terakhir, Pub. Di sini lah tempat Find-list terakhir dimana kami diharuskan berfoto bersama dengan kelompok masing-masing di dalam Pub tersebut. Tempat yang strategis dan interior klasik bergaya barat jadi kelebihannya (eh, emang ini di barat yakk...) :p

Find-list, Dolphin

Theme-list, Lines

Find-list, St.Paul Church

Autumn's color

Find and Theme list

Satu per satu kelompok mulai berdatangan dan memesan makanan ataupun minuman, alkohol ataupun coklat hangat. Dan saat itu aku seperti biasa cuma memesan secangkir kopi mocha, selain karna halal itu juga menu yang paling murah! :D
Sama seperti teman-teman kelompokku yang lain, 2 orang cewek di kelompokku juga memesan secangkir kopi dan coklat panas. Well, kalo mereka alasannya bukan karena halal atau gaknya, tapi karena memang menu yang paling murah di Pub itu ya memang yang pakai cangkir :p
Sejenak ngobrol dan menentukan apa yang harus kami upload saat submission nanti, aku pun baru sadar bahwa di kelompok kami, semua orang berasal dari negara yang berbeda. 1 orang cewek dari Bulgaria, cewek yang satunya lagi asli Inggris, dan aku dan 2 cowok lainnya berasal dari Indonesia, Malaysia dan Singapura. Baru sadar kalau ternyata kita itu tetanggaan di Asia! :D

Only for NUPS member! :D

The Counting House Pub

Group 7 at The Counting House Pub

Setelah beberapa waktu akhirnya satu persatu dari kami memutuskan untuk pulang sementara cewek-cewek di kelompokku mulai bergabung dengan teman-teman dari universitas mereka masing-masing. Kesimpulannya, hunting kali ini benar-benar beda and worth every pounds.

See you in another photohunt guys! Cheers.

Sunday, January 5, 2014

Teori Hantu Internasional

Yaapppp.... sampai jam 12 malam merenung gak jelas, dan akhirnya terlintas di pikiranku untuk nulis masalah yang cukup bikin penasaran, kenapa hantu di Indonesia tidak muncul di wilayah Inggris Raya? Padahal banyak warga Indonesia yang tinggal dan (bahkan) meninggal di negara ini. Well, berdasarkan hasil renungan malam ini, akhirnya aku sampai pada 5 kesimpulan, bahwa :

1. Adanya perbedaan iklim dan cuaca antara Indonesia dan Inggris menyebabkan tidak munculnya jenis-jenis hantu Indonesia di negara ini. Bayangkan saja kalau hantu jenis pocong, kuntilanak atau sundel bolong dengan pakaian yang hanya kain putih tipis, apalagi sundel bolong yang notabene bajunya juga ikut bolong, beredar di wilayah sedingin Inggris. Apa jadinya mereka nanti ? Belum lagi tuyul, apa dia sanggup nyolong duit cuma pake kolor doank?!

2. Perbedaan budaya otomatis memegang peranan penting sebagai dampak hantu-hantu Indonesia tidak go-internasional. Dengan pakaian yang seadanya seperti itu, mereka jelas tidak bisa ikut bergabung dengan hantu-hantu eropa yang mayoritas mengenakan pakaian lengkap, formal dan terkesan mewah. Bahasa juga menjadi kendala bagi mereka karena target sasaran mereka mayoritas adalah orang asing yang mungkin tidak paham bahwa mereka adalah hantu yang sedang berusaha mencuri perhatian.

3. Perbedaan zona waktu juga sepertinya berpengaruh besar. Bagaimana tidak, dengan perbedaan waktu 7 jam di musim dingin dan 6 jam di musim panas antara Inggris dengan Indonesia, membuat mereka kesulitan untuk berkomunikasi dengan kerabat, keluarga ataupun Raja hantu di negara asalnya. Saat rekan-rekannya bersiap untuk kembali ke kandang, rekannya di wilayah seberang sedang bersiap untuk keluar kandang. Dan begitu seterusnya. Memilukan

4. Jam kerja adalah faktor yang paling membuat hantu Indonesia tidak beredar di luar negeri. Bisa dibayangkan jika rekan-rekan mereka di Indonesia terpatok 10-11 jam kerja sepanjang tahun, hantu di Inggris mendapatkan variasi jam kerja sesuai dengan musim. Di musim dingin, malam lebih panjang daripada siang. Jam kerja mereka dimulai sejak pukul 4 sore (karena hari sudah gelap) dan berakhir pukul 8 pagi (karena matahari baru terbit). Ini menimbulkan kesenjangan bagi hantu-hantu yang bertugas di Inggris Raya. Jam kerja yang melebihi batas ditambah dengan target pencapaian perhatian yang tinggi membuat hantu enggan ke luar negeri. Walaupun nantinya akan berbalik pada saat musim panas, dimana mereka bertugas paling lama hanya 6 jam sehari.

5. Alarm atau penanda dimulai atau berakhirnya sebuah shift gentayangan juga sangat besar pengaruhnya terhadap penugasan di luar negeri. Di Indonesia, setiap adzan berkumandang, itu digunakan sebagai penanda bagi para hantu untuk memulai atau mengakhiri akitifitasnya. Adzan maghrib untuk shift tugas dan adzan subuh untuk mengakhiri shift tugas. Sementara bagi mereka yang di Inggris, jumlah masjid sangat sedikit, kalaupun ada tetap tidak terdengar adzan karena memang di negara ini muslim adalah umat minoritas dan suara kumandang adzan tidak diperkenankan. Hanya beberapa wilayah saja yang bisa mengumandangkan adzan seperti seharusnya. Hal ini jelas berbahaya bagi mereka yang sedang bertugas. Kalau hanya terlambat bertugas, itu bukan masalah yang berarti. Tapi bagaimana mereka mengakhiri tugas kalau adzan subuh tidak terdengar ? Akan sangat fatal bagi mereka karena bisa bertemu langsung dengan matahari. Bukannya mengakhiri jam tugas, tapi malah mengakhiri masa tugas sebagai hantu internasional.

Well, hanya sampai disitu hasil pemikiran malam ini. Hasil dari renungan atas kegalauan disertasi yang menyimpang. Kurang lebihnya dimaklumi saja, harap maklum ya! :D

Terima kasih :D
*undurdiri

Birmingham

Rutinitas kuliah term pertama di City University berjalan normal dan seperti perkuliahan biasanya. Beneran normal sampai kadang bingung kenapa gak ada perbedaan antara kuliah di Indonesia dengan disini, cuma bahasa saja yang membedakan. Kuliah sebenarnya gak menyita banyak waktu, tapi metode reading list yang diterapkan emang butuh ekstra waktu untuk bisa paham materi yang disampaikan. Selang beberapa minggu pertama perkuliahan, aku pun harus menyediakan waktu untuk menyempatkan diri menjelajah negara ini, seperti yang sudah aku ikrarkan sebelumnya. Kebetulan dalam waktu dekat, organisasi pelajar Indonesia, dikenal dengan nama PPI-UK, menggelar pertandingan olahraga antar pelajar Indonesia se-Inggris Raya. yaayy!! :p

Singkat cerita, pada hari-H, aku dan beberapa orang lainnya bersiap menuju Birmingham, kota dimana University of Birmingham menjadi tuan rumah untuk lomba kali ini. Tiket sudah dibeli dan siap untuk berangkat. Tapi sebelumnya aku mau cerita sedikit mengenai metode pembelian tiket kereta di sini. Sistem pembeliannya sudah menganut sistem online tapi untuk bukti fisik tiket tetap harus mengambil tiket yang dicetak di stasiun terdekat, dimana mesin pencetak tiket atau counter tiket resmi tersedia (tidak bisa dikirim melalui email) dan kemungkinan besar ini berlaku untuk semua pembelian tiket kereta. Pertama kali beli aku agak bingung tentang bagaimana cara pengambilan tiket kereta. Karena keberangkatan kami semua ke Birmingham tepat pada pukul 7 pagi, sedikit lebih awal karena harga yang murah, aku akhirnya memutuskan untuk mengambil tiket terlebih dahulu beberapa hari sebelum hari-H saat kebetulan melewati stasiun dekat kampus.

Ticket Collection Point

Mesin Pencetak Tiket

Pengambilan tiket yang dibeli online bisa diambil di mesin pengambilan tiket yang mencetak langsung semua tiket yang dibeli dalam satu kode booking. Saat itu aku membeli tiket untuk dua orang return ticket ke Birmingham dan dalam satu kali perjalanan akan dicetak dua kupon per orang ditambah satu kupon bukti penerimaan. Hasilnya, kupon yang aku terima untuk tiket tercetak sebanyak delapan lembar kupon ditambah satu bukti penerimaan, totalnya sembilan! bingung waktu pertama kali nerima tiket sebanyak itu, akhirnya aku putuskan untuk bertanya ke petugas dan mendapatkan penjelasan yang rinci. Well, I got it! :)

Setelah sehari sebelumnya membeli bekal untuk cadangan makanan selama di perjalanan, pagi harinya kami bangun sedikit telat dan hasilnya kami harus berlomba dengan waktu. Jam menunjukkan pukul 06.56 saat kami tiba di Euston station, tempat dimana Virgin train akan menjemput kami menuju ke Birmingham. Kami berlari sebisanya untuk dapat mencapai kereta yang sudah menunggu dan ternyata belum ditinggal, hanya tersisa 3 menit saat kami menunjukkan tiket masuk dan akhirnya bisa santai berjalan menuju kereta. Posisi gerbong kami ada di bagian depan, jadi kami harus berjalan dari pintu masuk platform dimana gerbong paling akhir dari kereta persis di depan pemeriksaan tiket. Sedang santainya berjalan, tiba-tiba pintu kereta tertutup dan kami langsung shock!! Buru-buru kami menuju pintu masuk terdekat dan menekan tombol untuk membuka pintu, untungnya masih bisa terbuka. Demi alasan keamanan (biar gak ditinggal), akhirnya kamipun berjalan di dalam kereta melewati gerbong demi gerbong sampai dimana kursi berhadapan dengan soket listrik yang sudah aku reserved sebelumnya berada. Belum selesai kami mengatur barang-barang dan tas di tempat yang disediakan di atas kursi kami, kereta sudah berjalan meninggalkan Euston Station secara perlahan. Aku dan temanku cuma bisa bengong, masih untung gak ditinggal! Tidak ada pemberitahuan kereta akan segera berangkat (atau mungkin karena kita telat, jadi gak denger) tiba-tiba saja kereta meluncur. Duuhh legaa sudah masuk di gerbong kereta. :p

Kereta eksekutif harga ekonomi :p

Sepanjang perjalanan, kami untuk pertama kalinya diperlihatkan pemandangan daerah pedesaan Inggris Raya yang hijau dan berkabut pagi itu. Bener-bener harus dijelajahi yang namanya country side di UK. Sambil ngemil dan berusaha menghemat bahan baku perjalanan, kami sesekali berbicara dengan penumpang lain yang kebetulan juga pelajar di London. Sampai akhirnya dia turun di salah satu stasiun pemberhentian kereta dan kamipun akhirnya melanjutkan aktifitas mengunyah kami sampai akhirnya tiba di Birmingham.

Poser :D


Keluar dari kereta kami bergabung dengan 1 orang kawan yang duduknya terpisah di gerbong lain dalam kereta yang sama dan dia juga salah satu peserta lomba perwakilan dari Lancaster (harusnya London, tapi karna telat daftar, jadinya masuk ke Lancaster). Kami keluar dari stasiun dan berusaha mencari pemberhentian bus terdekat untuk mengantar kami ke University of Birmingham, tempat dimana lomba diadakan. Kamipun akhirnya naik ke bus dan membeli one-day-travelcard supaya aman kalau nanti mau jalan muter-muter keliling kota. Padahal seharusnya kami bisa membeli tiket grup yang jauh lebih murah daripada beli tiket masing-masing orang. Pelajaran yang berharga kalau mendatangi kota-kota di luar London, cari kemungkinan tiket bus termurah!! Dan satu lagi yang gak boleh dilupakan kalau bepergian dengan bus di Birmingham, jangan lupa bawa gadget! karena tidak seperti di London, bus kota di Birmingham tidak dilengkapi dengan pemberitahuan bus stop. Jadi, dengan aplikasi peta di gadget, dijamin gak bakal sesat!

Foggy Birmingham

Turun dari bus, kami langsung menuju lokasi perlombaan dengan berjalan mengitari kampus yang ternyata luar biasa luas!! University of Birmingham, dengan posisi kampus yang berada di satu area luas, aku sempat beranggapan bahwa universitas ini mirip dengan UGM di Jogjakarta, luas dan terintegrasi. Tapi dari segi penataan, lingkungan, pemandangan, fasilitas dan banyak lagi, aku sadar kalau ternyata aku belum pernah lihat ada kampus seperti ini di kampung halaman. :p

University's Main Building

Another poser :p

Salah satu area University of Birmingham


Kami akhirnya sampai di gedung olahraga, tempat dimana kompetisi tahun lalu diadakan. Dan ternyata lokasinya pindah di fasilitas olahraga berbeda di sisi lain dari area universitas, tempat dimana kami semua turun bus pertama kali. Ou yeah! akhirnya kami harus berjalan lagi dan lagi... Great!!

Main catur, anyone? :p

Setelah tempat olahraga diketemukan, peserta lomba langsung menuju arena dan kami sebagai penonton sekaligus suporter yang baik harus mendukung, tapi setelah makan pastinya! :D
Setiap ada event Indonesia seperti ini, yang namanya bazar makanan gak boleh dilewatkan. Selain ada makanan nusantara, bahan baku masak seperti bumbu dapur, sambal terasi, tempe dan kawan-kawannya banyak dijual di bazar. Kesempatan seperti ini harus dimanfaatkan dengan memborong! :p

Lokasi bazar makanan nusantara :D

Setelah makan nasi rames dan ketoprak, kami pun kembali menuju arena perlombaan untuk menonton pertandingan badminton secara maraton sehari penuh, dari penyisihan sampai final. Sampai akhirnya tim yang kami dukung tersingkir dan hanya meraih juara 3 Badminton ganda putra. Well, gak masalah, yang penting fun.

Keluar dari arena olahraga, kami berhenti sejenak untuk menikmati pertandingan rugby, dan saat kami sampai pas banget acara pembuka pertandingan, which is waktunya cheerleader beraksi. :p

Rugby!

Gak motret cheerlead beneran, yang KW juga boleh :D

Hanya sebentar kami menonton pertandingan rugby karena terikat dengan jadwal kereta yang sudah mepet, kamipun langsung menuju stasiun kereta dan stand by di warung mas Donald di stasiun untuk mengisi perut. Baru setelahnya kami naik ke kereta London Midland dengan pemberhentian sebanyak 24 stasiun! beda dengan Virgin train yang hanya berhenti di 4 sampai 5 stasiun. Pfftt... namanya aja tiket murah!

Ganti kereta di sini!

Bukan cuma banyaknya pemberhentian yang bikin semua penumpang boring, tiba-tiba di stasiun Northampton semua penumpang menuju London harus berganti kereta karena kereta yang kami naiki ternyata hanya berhenti sampai di Northampton. Damn! Dinginnya malam (sekitar 5 derajat) yang membuat semua penumpang malas untuk turun dan menunggu kereta pengganti datang. Walaupun hanya menunggu 30 menit, tetap saja udara dingin terbukti memperparah tingkat kebetean kami semua. Untungnya dalam perjalanan pulang, kami semua yang datang dari London menumpang kereta yang sama, jadi banyak teman untuk mengobrol.

Waiting for the train

Moving to other platform

Finally train to London!

Satu hal lagi sebenarnya yang aku dan kawanku kuatirkan. Tube dan DLR (kereta underground dan overground) terakhir menuju ke flat kami adalah pukul 00.45 dan waktunya sangat mepet dengan jadwal kedatangan kami di Euston station. Tapi namanya nasib masih baik, jam 00.30 kami lari menuju Tube di Euston station dan berganti kereta di stasiun bawah tanah Bank untuk berganti dengan DLR pada pukul 00.55. Untung masih terkejar kereta terakhir. Jadilah kami amaaan sampai di flat 20 menit setelahnya.

What a day! walaupun cukup melelahkan, tapi seru! Semua kota di UK, memang pantas untuk di jelajahi! Every pence spent is worth it! :)