Sunday, January 5, 2014

Birmingham

Rutinitas kuliah term pertama di City University berjalan normal dan seperti perkuliahan biasanya. Beneran normal sampai kadang bingung kenapa gak ada perbedaan antara kuliah di Indonesia dengan disini, cuma bahasa saja yang membedakan. Kuliah sebenarnya gak menyita banyak waktu, tapi metode reading list yang diterapkan emang butuh ekstra waktu untuk bisa paham materi yang disampaikan. Selang beberapa minggu pertama perkuliahan, aku pun harus menyediakan waktu untuk menyempatkan diri menjelajah negara ini, seperti yang sudah aku ikrarkan sebelumnya. Kebetulan dalam waktu dekat, organisasi pelajar Indonesia, dikenal dengan nama PPI-UK, menggelar pertandingan olahraga antar pelajar Indonesia se-Inggris Raya. yaayy!! :p

Singkat cerita, pada hari-H, aku dan beberapa orang lainnya bersiap menuju Birmingham, kota dimana University of Birmingham menjadi tuan rumah untuk lomba kali ini. Tiket sudah dibeli dan siap untuk berangkat. Tapi sebelumnya aku mau cerita sedikit mengenai metode pembelian tiket kereta di sini. Sistem pembeliannya sudah menganut sistem online tapi untuk bukti fisik tiket tetap harus mengambil tiket yang dicetak di stasiun terdekat, dimana mesin pencetak tiket atau counter tiket resmi tersedia (tidak bisa dikirim melalui email) dan kemungkinan besar ini berlaku untuk semua pembelian tiket kereta. Pertama kali beli aku agak bingung tentang bagaimana cara pengambilan tiket kereta. Karena keberangkatan kami semua ke Birmingham tepat pada pukul 7 pagi, sedikit lebih awal karena harga yang murah, aku akhirnya memutuskan untuk mengambil tiket terlebih dahulu beberapa hari sebelum hari-H saat kebetulan melewati stasiun dekat kampus.

Ticket Collection Point

Mesin Pencetak Tiket

Pengambilan tiket yang dibeli online bisa diambil di mesin pengambilan tiket yang mencetak langsung semua tiket yang dibeli dalam satu kode booking. Saat itu aku membeli tiket untuk dua orang return ticket ke Birmingham dan dalam satu kali perjalanan akan dicetak dua kupon per orang ditambah satu kupon bukti penerimaan. Hasilnya, kupon yang aku terima untuk tiket tercetak sebanyak delapan lembar kupon ditambah satu bukti penerimaan, totalnya sembilan! bingung waktu pertama kali nerima tiket sebanyak itu, akhirnya aku putuskan untuk bertanya ke petugas dan mendapatkan penjelasan yang rinci. Well, I got it! :)

Setelah sehari sebelumnya membeli bekal untuk cadangan makanan selama di perjalanan, pagi harinya kami bangun sedikit telat dan hasilnya kami harus berlomba dengan waktu. Jam menunjukkan pukul 06.56 saat kami tiba di Euston station, tempat dimana Virgin train akan menjemput kami menuju ke Birmingham. Kami berlari sebisanya untuk dapat mencapai kereta yang sudah menunggu dan ternyata belum ditinggal, hanya tersisa 3 menit saat kami menunjukkan tiket masuk dan akhirnya bisa santai berjalan menuju kereta. Posisi gerbong kami ada di bagian depan, jadi kami harus berjalan dari pintu masuk platform dimana gerbong paling akhir dari kereta persis di depan pemeriksaan tiket. Sedang santainya berjalan, tiba-tiba pintu kereta tertutup dan kami langsung shock!! Buru-buru kami menuju pintu masuk terdekat dan menekan tombol untuk membuka pintu, untungnya masih bisa terbuka. Demi alasan keamanan (biar gak ditinggal), akhirnya kamipun berjalan di dalam kereta melewati gerbong demi gerbong sampai dimana kursi berhadapan dengan soket listrik yang sudah aku reserved sebelumnya berada. Belum selesai kami mengatur barang-barang dan tas di tempat yang disediakan di atas kursi kami, kereta sudah berjalan meninggalkan Euston Station secara perlahan. Aku dan temanku cuma bisa bengong, masih untung gak ditinggal! Tidak ada pemberitahuan kereta akan segera berangkat (atau mungkin karena kita telat, jadi gak denger) tiba-tiba saja kereta meluncur. Duuhh legaa sudah masuk di gerbong kereta. :p

Kereta eksekutif harga ekonomi :p

Sepanjang perjalanan, kami untuk pertama kalinya diperlihatkan pemandangan daerah pedesaan Inggris Raya yang hijau dan berkabut pagi itu. Bener-bener harus dijelajahi yang namanya country side di UK. Sambil ngemil dan berusaha menghemat bahan baku perjalanan, kami sesekali berbicara dengan penumpang lain yang kebetulan juga pelajar di London. Sampai akhirnya dia turun di salah satu stasiun pemberhentian kereta dan kamipun akhirnya melanjutkan aktifitas mengunyah kami sampai akhirnya tiba di Birmingham.

Poser :D


Keluar dari kereta kami bergabung dengan 1 orang kawan yang duduknya terpisah di gerbong lain dalam kereta yang sama dan dia juga salah satu peserta lomba perwakilan dari Lancaster (harusnya London, tapi karna telat daftar, jadinya masuk ke Lancaster). Kami keluar dari stasiun dan berusaha mencari pemberhentian bus terdekat untuk mengantar kami ke University of Birmingham, tempat dimana lomba diadakan. Kamipun akhirnya naik ke bus dan membeli one-day-travelcard supaya aman kalau nanti mau jalan muter-muter keliling kota. Padahal seharusnya kami bisa membeli tiket grup yang jauh lebih murah daripada beli tiket masing-masing orang. Pelajaran yang berharga kalau mendatangi kota-kota di luar London, cari kemungkinan tiket bus termurah!! Dan satu lagi yang gak boleh dilupakan kalau bepergian dengan bus di Birmingham, jangan lupa bawa gadget! karena tidak seperti di London, bus kota di Birmingham tidak dilengkapi dengan pemberitahuan bus stop. Jadi, dengan aplikasi peta di gadget, dijamin gak bakal sesat!

Foggy Birmingham

Turun dari bus, kami langsung menuju lokasi perlombaan dengan berjalan mengitari kampus yang ternyata luar biasa luas!! University of Birmingham, dengan posisi kampus yang berada di satu area luas, aku sempat beranggapan bahwa universitas ini mirip dengan UGM di Jogjakarta, luas dan terintegrasi. Tapi dari segi penataan, lingkungan, pemandangan, fasilitas dan banyak lagi, aku sadar kalau ternyata aku belum pernah lihat ada kampus seperti ini di kampung halaman. :p

University's Main Building

Another poser :p

Salah satu area University of Birmingham


Kami akhirnya sampai di gedung olahraga, tempat dimana kompetisi tahun lalu diadakan. Dan ternyata lokasinya pindah di fasilitas olahraga berbeda di sisi lain dari area universitas, tempat dimana kami semua turun bus pertama kali. Ou yeah! akhirnya kami harus berjalan lagi dan lagi... Great!!

Main catur, anyone? :p

Setelah tempat olahraga diketemukan, peserta lomba langsung menuju arena dan kami sebagai penonton sekaligus suporter yang baik harus mendukung, tapi setelah makan pastinya! :D
Setiap ada event Indonesia seperti ini, yang namanya bazar makanan gak boleh dilewatkan. Selain ada makanan nusantara, bahan baku masak seperti bumbu dapur, sambal terasi, tempe dan kawan-kawannya banyak dijual di bazar. Kesempatan seperti ini harus dimanfaatkan dengan memborong! :p

Lokasi bazar makanan nusantara :D

Setelah makan nasi rames dan ketoprak, kami pun kembali menuju arena perlombaan untuk menonton pertandingan badminton secara maraton sehari penuh, dari penyisihan sampai final. Sampai akhirnya tim yang kami dukung tersingkir dan hanya meraih juara 3 Badminton ganda putra. Well, gak masalah, yang penting fun.

Keluar dari arena olahraga, kami berhenti sejenak untuk menikmati pertandingan rugby, dan saat kami sampai pas banget acara pembuka pertandingan, which is waktunya cheerleader beraksi. :p

Rugby!

Gak motret cheerlead beneran, yang KW juga boleh :D

Hanya sebentar kami menonton pertandingan rugby karena terikat dengan jadwal kereta yang sudah mepet, kamipun langsung menuju stasiun kereta dan stand by di warung mas Donald di stasiun untuk mengisi perut. Baru setelahnya kami naik ke kereta London Midland dengan pemberhentian sebanyak 24 stasiun! beda dengan Virgin train yang hanya berhenti di 4 sampai 5 stasiun. Pfftt... namanya aja tiket murah!

Ganti kereta di sini!

Bukan cuma banyaknya pemberhentian yang bikin semua penumpang boring, tiba-tiba di stasiun Northampton semua penumpang menuju London harus berganti kereta karena kereta yang kami naiki ternyata hanya berhenti sampai di Northampton. Damn! Dinginnya malam (sekitar 5 derajat) yang membuat semua penumpang malas untuk turun dan menunggu kereta pengganti datang. Walaupun hanya menunggu 30 menit, tetap saja udara dingin terbukti memperparah tingkat kebetean kami semua. Untungnya dalam perjalanan pulang, kami semua yang datang dari London menumpang kereta yang sama, jadi banyak teman untuk mengobrol.

Waiting for the train

Moving to other platform

Finally train to London!

Satu hal lagi sebenarnya yang aku dan kawanku kuatirkan. Tube dan DLR (kereta underground dan overground) terakhir menuju ke flat kami adalah pukul 00.45 dan waktunya sangat mepet dengan jadwal kedatangan kami di Euston station. Tapi namanya nasib masih baik, jam 00.30 kami lari menuju Tube di Euston station dan berganti kereta di stasiun bawah tanah Bank untuk berganti dengan DLR pada pukul 00.55. Untung masih terkejar kereta terakhir. Jadilah kami amaaan sampai di flat 20 menit setelahnya.

What a day! walaupun cukup melelahkan, tapi seru! Semua kota di UK, memang pantas untuk di jelajahi! Every pence spent is worth it! :)


Friday, November 1, 2013

First Day in London

Terbangun dari tidur yang tidak diduga esok harinya, waktu masih dini hari untuk wilayah London, aku bingung mau beraktifitas apa sepagi itu. Jadi lah tidur-tiduran sambil mikirin rencana kegiatan paginya sampai masuk waktu subuh dan aku sholat subuh untuk pertama kalinya di London. :)

Jam 7 pagi, aku turun ke lantai bawah untuk menyantap sarapan yang disediakan di wisma, self service breakfast, mulai dari manggang roti, bikin teh atau kopi sampai cuci peralatan makanan yang kita pakai, just make your self home! Pagi itu aku langsung nyerbu roti dan telur rebus. Gak tau apa karena lingkungan atau emang kondisi yang mengatakan bahwa hanya makan roti 2 lapis, 1 telur rebus, segelas teh dan 1 apel bisa bikin perut bertahan sampai jam makan siang. Aku aja masih gak percaya sampai sekarang :D

Selesai dengan sarapan, aku dan seorang teman bersiap-siap untuk pergi menjelajah kota kecil ini (excuse me?! ) :p
Kota ini gak ada kecilnya sama sekali, berbekal sepatu yang masih agak terasa sempit dan telapak kaki yang jarang diasah untuk jalan jauh, kami jalan menuju stasiun tube terdekat dari wisma, Willesden Green. Setelah ambil peta, kami antri di loket untuk beli tiket tube. Aku pribadi belum terlalu familiar dengan mesin tiket karena selain masih awam soal tiket one way, Oyster dan kawan-kawannya, mesin di stasiun kadang antriannya lebih banyak dan ada beberapa mesin yang hanya bisa melakukan pembayaran dengan uang pas atau dengan kartu debit. Untuk duit pas otomatis kita gak punya karena baru datang dan pecahan poundsterling yang paling kecil adalah 20 poundsterling dan untuk debit card juga otomatis belum punya karena belum buka rekening bank lokal UK.

Saat sedang mengantri sambil mengamati peta jalur Tube, kami dihampiri oleh petugas stasiun yang memang tugasnya membantu orang-orang seperti kita, orang kebingungan! Setelah ngobrol dan dari informasi yang kita dapat dari petugas, kita putuskan untuk beli 1-Day-Journey card yang berlaku untuk zona 1-2 seharga kurang lebih 7 poundsterling. Untuk hitungannya memang lebih murah karena sekali perjalanan untuk tiket single trip saja dari zona 2 ke zona 1 (Central London) bisa memakan biaya sekitar 2,50 pounds (lupa harga persisnya). Dengan Journey Card, kita bisa masuk-keluar stasiun tube sebebasnya selama masih di dalam zona yang ditentukan saat membeli tiket dalam 1 hari dan itu berlaku juga untuk bus yang (tanpa Journey Card) jauh dekat bayar 1,40 poundsterling sekali naik! Irit kan.. :)


Transportation Zone

Transportasi di London terbagi dalam sembilan zona (saking gedenya ni kota). Zona 1 adalah wilayah Central London a.k.a pusat kota. Mulai dari Buckingham Palace, Big Ben, House of Parliament, London Eye, British Museum, perkantoran dan lainnya berada di Zona 1. sementara zona-zona lainnya yang tersisa adalah wilayah perumahan dan perkantoran lainnya serta bandara. Aku sendiri hanya pernah menginjak paling jauh zona 6, dimana Bandara Internasional Heathrow berada. 

Dalam bertransportasi di London, ada Oyster card yang memberikan beberapa kemudahan seperti top up dan langganan mingguan atau bulanan. Top up sama seperti halnya membeli tiket single journey karena biaya yang kita keluarkan sesuai dengan biaya jarak single journey ke stasiun tujuan, hanya saja kita tidak perlu antri beli tiket lagi setiap akan menggunakan tube,  tinggal sentuhkan ke sensor di pintu masuk dan berangkat. Lain cerita kalau kita berlangganan mingguan atau bulanan, biaya langsung dipatok dengan harga tertentu yang berbeda-beda targantung zona perjalanan kita. Kalau sekiranya akan sering bepergian dan menggunakan  transportasi umum, akan jauh lebih murah jika berlangganan mingguan atau bulanan sesuai dengan kebutuhan (intensitas dan zona). Awalnya aku juga bingung dengan peraturan Oyster ini, tapi setelah trial and error dalam beberapa minggu pertama, sekarang paling tidak sudah bisa lebih bisa memanfaatkan Oyster semaksimal mungkin. Belum lagi setelah Oyster untuk student aku terima, diskon 30% dari harga langganan mingguan atau bulanan untuk umum, meringankan sedikit beban biaya di London yang serba mahal. :p

Map for London Under and Over ground Train including DLR Service

Westminster Station
Wuusshhh.... kita sudah naik di atas Jubilee Line, tube yang mengantarkan kita dari Willesden Green ke Central London. Misi kita kali ini hanya mencari dimana kah letak kampus kita berada, City University London. Sesuai kode pos sih, daerahnya di daerah timur pusat kota London. Tanpa arah yang jelas, kami putuskan untuk turun di Westminster, kenapa, karena di stasiun ini banyak sekali yang turun dan kita dengan sotoynya ikutan turun. Master! :p
Tapi ternyata walaupun kita sotoy dan salah tempat turun, kita gak menyesal dengan apa yang kita temukan setelah keluar dari stasiun bawah tanah Westminster.

Exit to Big Ben
London Eye on the other side
 Yapp, ternyata banyaknya orang yang turun di Westminter bukan hanya karena ingin berganti kereta dengan jalur lain, tapi juga karena stasiun ini merupakan akses ke salah satu wisata utama kota London. Turun di Westminster dan kami pun mantap menjelajah daerah ini dengan hanya berjalan kaki. Berbekal peta yang tersedia di sudut-sudut jalan, aku dan temanku pergi menjelajah tiap sudut pusat kota London pagi itu, on foot!
Big Ben

Tidak begitu jauh dari Big Ben, tampak jelas dari seberang sungai Thames, semacam roda raksasa yang disebut oleh orang-orang sebagai London Eye. Perjalanan waktu itu aku dan temanku tidak berniat untuk masuk ke wahana itu karena kami punya misi yang lebih penting untuk mencari lokasi kampus kami, dan menurut kabar yang beredar, biayanya lumayan mahal. Well, gak ada alasan untuk naik ke London Eye saat itu juga, toh kami masih akan menghabiskan 1 tahun masa studi kami di London. Waktu yang cukup untuk menjelajah dan mencicipi tempat-tempat wisata di London atau UK atau bahkan Europe. Amiiiinnn !!



Banyak sebenarnya yang bisa di eksplor dari wilayah Big Ben ini, tapi kami harus terus berjalan agar bisa menemukan tujuan utama kami, City University London, sambil muter-muter kota :p
Kurang lebih 15 menit jalan menjauhi Big Ben melewati Trafalgar Square dan beberapa bangunan bersejarah lainnya, kami akhirnya menemukan sebuah bangunan besar yang dikelilingi pagar tinggi dengan beberapa penjaga berseragam merah hitam dengan topi bulu menjulang tinggi. Ketemu juga dengan yang namanya Buckingham Palace.


Ada beberapa pengumuman yang ditempel di pagar istana, salah satunya tentang tur di dalam istana yang dibuka untuk umum sampai dengan hari itu. Sudah sepakat dengan temanku, akhirnya kami berdua jalan mengitari pagar istana sampai di depan gerbang utama yang tertutup! laah mana tur nya?! sampai sekarang kami akhirnya belum pernah berhasil memasuki bagian dalam istana sang ratu. Padahal pengen bangeeett :p
Untuk mengobati kekecewaan, aku dan temanku cuma bisa mengambil beberapa gambar istana dengan beberapa pose standar cowok :D
Tepat di depan istana, ada sebuah kolam, karena gak pernah ikut tur jadi gak tau juga ni kolam kenapa bisa di situ dan kolam apa namanya mungkin bisa di google sendiri :p
Kami istirahat sejenak di pinggir kolam sambil sesekali melihat banyaknya wisatawan yang datang hari itu, dan mengira-ngira perasaan mereka. Apa yang mereka kunjungi hari itu untuk melihat isi istana, ternyata hanya bisa melihat dari luar pagar. Nyeseekk bangeett gak siiih :D
Gak lama kami pun memulai aktifitas jalan kaki lagi menuju ke arah berlawanan dari istana dan kolam menyusuri taman yang hijau, kemungkinan besar namanya Green Park, karena kami belum pernah masuk secara resmi, hanya dari luar saja menatap ke hamparan rumput hijau yang asri dan tertata rapi. Kami memulai langkah kami menuju ke arah Oxford Street, daerah pusat perbelanjaan terdekat dari wilayah istana. Sekalian juga aku beberapa hal yang ingin aku tanyakan ke operator telepon UK terkait kontrak untuk iPhone ku. Persis setelah Green Park, ada sebuah bangunan yang juga di jaga oleh pengawal istana, kurang pasti apa nama bangunan dan siapa yang ada di dalam bangunan tersebut sampai harus dikawal oleh 2 orang penjaga. Hmmm... sekali lagi, kita gak ikut tur, jadi gak paham sama informasi di sekitar situ.

Cukup jauh kami berjalan untuk akhirnya sampai di kawasan Oxford Street. Sepanjang jalan itu yang kelihatan cuma toko-toko mulai dari yang terkenal sampai yang harga miring. Cuma ada 2 tujuan di kawasan Oxford Street dan itu bukan untuk belanja. Salah satunya tadi untuk mengunjungi operator telepon dan yang satunya lagi adalah untuk menumpang tube dari stasiun Bond Street menuju ke kampus. Selesai mencari dan mendapatkan informasi dari petugas salah satu operator telepon di UK, aku dan temanku mempercepat langkah ke arah stasiun Bond Street untuk menumpang kereta bawah tanah ke arah stasiun Bank untuk berganti dengan kereta Northern Line ke arah utara london.

Turun di stasiun Angel, kami berdua segera keluar dari dalam tanah melewati pengamen saxophone di pinggir hall yang dengan merdu memainkan alat musik tiupnya. Boleh lah untuk skill niup saxophone pengamen disini.

Keluar dari stasiun kamipun langsung belok kiri ke arah kampus, sesuai dengan peta yang sebelumnya kami lihat di sudut jalan dan halte bis. Kami ambil terus jalan sebelah kiri dan luruuss saat bertemu persimpangan. Terus luruuusss sampe akhirnya sadar ternyata salah ambil jalan. Sudah cukup jauh kami berjalan dan tidak sesuai dengan petunjuk bahwa jarak dari stasiun Angel ke kampus hanya memakan waktu maksimal 10 menit, sementara kami sudah berjalan lebih dari 30 menit. Ada yang salah, dan kami akhirnya bertanya dengan orang-orang yang kami temui di sepanjang jalan, dan ajaibnya gak ada yang tahu di mana lokasi City University berada. Wheeww... kerja keras nih!

Kami akhirnya memutuskan untuk mengambil jalan ke kanan, dengan harapan bisa menemukan jalan bercabang yang kami lewati sebelumnya karena kami yakin jalan bercabang itulah jalan menuju ke kampus. Dan ternyata benar, kami akhirnya menemukan salah satu gedung kampus yang menandakan bahwa kami sudah tiba di wilayah City University. Setelah memeriksa peta di pinggir jalan, akhirnya aku yakin bahwa gedung kampusku, gedung ilmu sosial, berada di jalan yang sama tempat kami berdiri. Dengan yakin aku berjalan lurus dan sekitar 5 menit aku pun sampai di depan gedung kampusku, tepat di sebelah gedung utama City University London. Akhirnyaaa...

Social Building of City University London

Setelah mengetahui pasti lokasi kampus, akhirnya kamipun bisa pulang ke wisma dengan kaki lecet-lecet dan menyisakan satu misi lagi yang belum tercapai, dimana kita akan tinggal untuk 1 tahun ke depan?! Well, that question's not for long, karena setelah beberapa hari masuk kuliah, kamipun akhirnya menetap di wilayah timur London, 45 menit jarak dari kampus menggunakan tube. Not bad aight! :)








Sunday, October 27, 2013

The 16 Hours Flight

Jum'at, 27 September 2013 tidak seperti weekend biasanya, aku dan 2 orang rekan kerja lainnya harus bersiap untuk meninggalkan negara kami tercintahhh (halah) selama kurang lebih setahun untuk kembali berjuang di bangku kuliah di tanah sang ratu, Great Britain, di kota London. Dengan persiapan yang sebenarnya belum sempurna karena harus meninggalkan istri dan anak yang masih sedang dalam kondisi imut dan lucu-lucunya, aku harus berangkat dan meraih gelar master yang ditugaskan perusahaan tempatku bekerja. Hmmm.... Inshaallah!

22.30 hari yang sama, kami sudah berdiri di antrian untuk menukarkan tiket kami dengan boarding pass dan menyerahkan bagasi pada petugas check in counter. Antrian untuk penerbangan internasional bisa dibilang sedikit lebih hectic karena kami tidak mulai antri dari awal-awal. Jadilah berdiri sekitar 1 jam untuk bisa akhirnya mendapatkan boarding pass dan melanjutkan ke imigrasi untuk akhirnya sign out dari Indonesia secara resmi.

00.10, sepuluh menit melewati hari Jum'at, kami sudah di persilakan untuk masuk pesawat dan duduk menempati kursi kami yang ternyata terletak sedikit lebih dalam di bagian belakang pesawat. Duduk bersebelahan dengan 2 orang rekan kerja lainnya, kami pun berusaha memulai aktifitas kami yang tertunda, TIDUR! Masih dalam keadaan berusaha merem, pesawat akhirnya tinggal landas dan akhirnya kami tidak jadi tidur selama beberapa saat untuk melihat kelap kelip lampu Jakarta yang semakin menjauh.

DING!! (kalo PING!!! itu Alm. BB... *eh) Seat belt sign is off dan aku pun ikut terjaga karena aku paham dalam beberapa saat pramugari pasti datang membawakan very late dinner :D
Okay, mungkin gak dalam beberapa saat, karena ternyata pesawat yang besar juga pastinya mengangkut penumpang dalam jumlah banyak. Fyuuhh... nasib di kursi belakang yaa giniihh...

Karena ini adalah latepost, Jadi aku lupa waktu itu apa yang aku makan untuk late dinner di Qatar Airways. Dan karena iPhone aku lungsurin ke adik tercintah, jadilah tak ada yang bisa aku capture selama perjalanan pergi ke London ini. Jadi pada post kali ini, hanya ada beberapa foto saja yang bisa aku share di sini. Singkatnya, makan malam saat itu aku habiskan dengan hanya menyisakan buah-buahan karena perjalanan masih panjang dan buah biasanya ampuh untuk melancarkan pencernaan. Aku masih belum bisa membayangkan  bagaimana rasanya bikin hajatan di toilet pesawat :D

Setelah makan malam, kami semua akhirnya terlelap dengan bekal penutup mata yang disediakan oleh airline. Tapi tidak untuk waktu yang lama, karena beberapa jam kemudian, kembali pramugari membangunkan kami untuk memilih menu snack yang ditawarkan, dan lagi-lagi, aku lupa apa yang aku makan saat itu, karena masih dalam status di awang-awang dengan penutup mata masih di jidat. Tidak terlalu bernapsu makan saat itu, akhirnya aku selesaikan snack yang disediakan dan kembali berusaha menutup mata untuk sekedar tidur-tiduran karena berdasarkan informasi, perjalanan ke arah Eropa harus memperbanyak aktifitas tidur di pesawat untuk mengurangi resiko penderitaan Jetlag yang berkepanjangan saat masa-masa awal kedatangan di Inggris nanti. Nah sebaliknya untuk perjalanan pulang ke Indonesia, diusahakan agar bisa selalu terjaga, mungkin dengan banyak nonton film yang disediakan airline, agar proses adaptasi zona waktu bisa dengan cepat disesuaikan.

Kurang lebih 8 jam kami terbang dengan mengalami beberapa turbulensi kecil, kami akhirnya melihat cahaya lampu bandara transit di Doha, Qatar. Tidak lama kemudian kamipun berhasil mendarat sama mulusnya dengan saat lepas landas di Jakarta. Naah disini mulai ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat akan transit di Doha International Airport. Mulai dari turun pesawat, sampai akan naik ke pesawat selanjutnya. Harus sangat diperhatikan warna dari cover boarding pass yang diberikan saat check in di counter Jakarta, ada beberapa perbedaan warna yang membedakan nantinya harus turun di terminal mana saat transit di Doha.

Cover Boarding pass 

 Keterangan Terminal Transfer


Cover kuning polos, yang aku miliki, menandakan aku dan teman-teman yang lain harus turun di terminal transfer pesawat, which is 2 stop from the aircraft. Pemberhentian pertama adalah untuk kedatangan internasional dan pemberhentian kedua adalah untuk transfer and departure. Di bagian belakang dari cover tersebut tertera di terminal mana kami harus turun dan melanjutkan penerbangan. Warna dari cover tersebut disesuaikan dengan warna terminal pemberhentian. Pada bagian belakang cover juga terdapat Satellite transfer, aku tidak begitu paham soal Satellite transfer karena saat penjelasan video di pesawat, posisi penutup mata masih pada tempatnya di bawah jidat. Jadilah kehilangan informasi mengenai itu. But you can google it though :)

Masuk di terminal transfer, kami melalui serangkaian pemeriksaan lagi dan kembali ikat pinggang, jam tangan dan benda lainnya yang bermuatan metal kami lepas dan masuk ke mesin x-ray. Selesai dengan pemeriksaan yang tanpa masalah, kamipun naik ke lantai atas dan menemukan musholla untuk melakukan sholat subuh di Qatar, yaaaa, di Qatar (padahal gak isya di Jakarta *mingkem). Musholla yang lumayan besar dan sangat nyaman, tapi tidak berbanding lurus dengan tempat wudhu yang memadai. Jadilah aku dan temanku wudhu di wastafel toilet terdekat dari musholla. Setelah sholat kami menemukan ada 1 atau 2 orang yang tidur di musholla, padahal sudah ada larangan dan tempat untuk tidur sudah di sediakan persis di sebelah musholla dengan kenyamanan yang pas, kursi dengan sandaran yang direbahkan dan ruangan digelapkan, sepertinya memang kurang bagi orang-orang yang tidur di musholla bandara ini. Tapi kalau boleh memilih, aku juga bakal milih untuk tidur di musholla, karpetnya empuk, ruangannya nyaman, dan yang paling penting bisa terkapar dan berguling-guling. Jadi itu sebabnya kenapa musholla dilarang sebagai tempat untuk molor! :D

Menjelang keberangkatan, kami masih sibuk dengan ber-BBM (alm) dengan keluarga di Indonesia menggunakan sinyal wi-fi yang disediakan bandara. Baru paham juga ternyata kalau paket BBM di Indonesia masih aktif, selama di luar negeri masih bisa digunakan tanpa perlu beli paket apapun, hanya memerlukan wi-fi. Aku buktikan mulai dari Qatar sampai di London, semuanya bisa digunakan hanya menggunakan wi-fi.
Mendekati waktu keberangkatan, kami mulai menuju kursi terdekat dengan gate keberangkatan kami yang sudah ditentukan dan harus berpisah dengan 1 orang rekan kerja yang kebetulan ketempatan kuliah di Manchester. Well, Good luck for you and all of us!

Tidak lama kami menunggu dan akhirnya panggilan boarding menggema. Cukup lama kami menunggu bis shuttle yang mengantarkan kami ke pesawat, mungkin karena alasan teknis dan lain-lain. Tapi pada akhirnya kami naik dan menuju ke tempat pesawat di parkir. Kali ini kursi kami dipisah, padahal sudah diminta untuk bisa dijadikan sebelahan dalam 1 deret. Iya bener 1 deret, tapi aku di kursi C dan temenku di kursi G atau H. Yaelaaahh, ini sih sederet tapi seberangan! ck ck ck

Penerbangan dari Doha ke London lebih mulus daripada penerbangan sebelumnya karena turbulensi hampir tidak ada atau mungkin tidak terasa dibanding sebelumnya. Tapi aku akui, penerbangan internasional seperti ini benar-benar nyaman dan tidak terasa seperti naik pesawat kecil untuk penerbangan domestik (yaeeeaaalaaaahh... *kampong)

Sarapan pagi di flight ke London aku pilih menu omelet dan teh hangat. Cocok sekali untuk membiasakan perut dengan makanan yang akan di cerna selama 1 tahun ke depan. Dengan tambahan beberapa roti, ajaibnya aku kenyang! yaakkk... perut sudah siap untuk bertahan dengan kondisi makanan ala Inggris nanti, tapi aku masih kurang yakin dengan bagaimana harus beradaptasi dengan toilet paper nantinya sebagai konsekuensi dari kekejaman mulut mengunyah dan menelan makanan. Well, nanti akan sampai ke bagian itu, yang penting dibahas saat ini adalah, aku gak bisa tidur sama sekali. Gawaaatttt pikirku, tengah malam bisa2 kebangun buat sarapan niih!

Kurang lebih 7,5 jam di atas awan dengan menghabiskan waktu menonton film, ngobrol dengan kenalan di kursi sebelah dan ngunyah-ngunyah , akhirnya kami mendarat di Heathrow, salah satu Bandara internasional di London. Selama proses landing aku habiskan dengan mengisi formulir kedatangan Internasional, lebih ke statement bahwa tidak membawa narkoba dan kawan-kawannya serta mengisi data diri untuk urusan imigrasi. Landing adalah saat-saat yang paling mendebarkan, bukan hanya karena ini pertama kali mendarat di London, tapi juga karena kondisi awan yang mendung dan cukup tebal, membuat pesawat bergoyang berirama *duh

Akhirnya pesawat bisa berhenti dengan sempurna pada tempatnya dan tiba saatnya untuk keluar dan merasakan udara London yang katanya masih hangat tapi ternyata DINGIN! May be for local, 18 degree is warm, but to me is freezing, at the first time. Tapi setelah beberapa minggu tinggal di London dan pernah merasakan suhu 8 derajat, aku sekarang sudah bisa keluar hanya menggunakan kaos oblong, celana pendek dan sandal jepit saat suhu sedang 13 derajat. Not bad for beginner lah yaa :D

Proses imigrasi untuk student ternyata dipisahkan dengan umum, kami punya antrian tersendiri. Ada formulir lagi yang harus diisi mengenai identitas kampus dan lama studi di London. Setelah semua terisi, akhirnya kami bisa melanjutkan ke immigration clearence untuk mendapatkan stempel di paspor dan resmi memasuki wilayah kerajaan Inggris. Saat menghadapi petugas imigrasi, dengan muka standar pegawai imigrasi (seramjudesketus), dia tanya-tanya mengenai nama kampus, jurusan yang diambil dan lama studi. Si bapak cuma melihatku saat mencocokkan foto di paspor dan foto di sertifikat bebas TB, setelah itu gak pake ba-bi-bu langsung cap, aku jalan dengan status resmi sebagai student di Inggris sementara rekan kerjaku masih di interogasi dengan durasi yang cukup lama oleh si ibu imigrasi dengan wajah standar pegawai imigrasi. Ternyata pertanyaan yang ditanyakan ke temanku lebih detail, seperti siapa yang mendanai beasiswa, kenapa temanku yang terpilih sebagai penerima beasiswa, dll. Emang kadang harus punya persiapan cadangan jawaban kalo lagi apes dapetnya pegawai imigrasi yang beginian.

Yaaayy, kami resmi memasuki wilayah Inggris dengan status student! kamipun menuju ke pengambilan bagasi di lantai bawah gedung terminal dan tepat saat sampai di tempat pengambilan bagasi, koperku melintas dengan antengnya. Dengan lecet yang bertambah, dan sedikit ada bekas seperti percobaan buka paksa di kuncinya, aku dan temanku keluar dari terminal melewati pemeriksaan acak yang dilakukan petugas bandara mengikuti jalur hijau (nothing to declare) menuju pintu keluar terminal. Beruntung banget cewek yang di depan kita yang kena random check, coba kalo apesnya nambah, bisa-bisa kita yang kena random check. Alhamdulillah deeh :)

Sampai di pintu keluar Terminal 4 Heathrow, sampailah kami pada 1 pertanyaan besar yang terus dipikirkan selama perjalanan, Nginep dimana?! Well, dengan waktu yang mepet dan persiapan yang juga kurang sempurna, kami memang belum memiliki tempat tinggal di London. Beberapa flat yang aku kontak ternyata belum memberikan jawaban, bahkan sampai kami tiba di London. Keadaan darurat, kamipun sebelumnya sudah menghubungi Wisma Siswa Merdeka di London untuk bisa menginap sementara sampai kami mendapatkan tempat tinggal tetap, dan beruntung wisma saat itu masih available.

Sebelum berangkat ke wisma, kami membeli air mineral (yang ternyata air bersoda *duh) untuk bekal selama perjalanan dari bandara ke wisma. Turun ke lantai terbawah dari Terminal 4, kami membeli tiket Tube (underground train) Picadilly Line menuju ke Wilesden Green, dimana Wisma Siswa Merdeka berlokasi. Selama perjalanan kami celingak celinguk melihat pemandangan pinggiran kota London saat Tube keluar dari terowongan bawah tanah untuk beberapa saat sampai kemudian kembali lagi masuk ke dalam tanah. Turun di Green Park station untuk mengganti kereta dengan jalur Jubilee Line menuju sisi Northwest dari kota London, kami kelimpungan saat harus membawa koper saat pergantian kereta. Beruntung masih ada lift yang bisa kami gunakan untuk sedikit meringankan beban kami.

Sampai kami di Wilesden Green, kami keluar dari station dan mulai untuk mencari alamat dari wisma tujuan kami. Bertanya ke beberapa orang, tidak ada satupun yang tau dimana 44 Dartmouth Road berada, at least nama jalan aja deh. Sampai akhirnya ketemu seorang ibu yang dengan baiknya menelpon kawannya yang tinggal di sekitar situ hanya sekedar bertanya dimana Dartmouth Road berada. Dan ternyata, hanya berjarak kurang dari 100 meter dari station! hadeehhh, tanya kemana-kemana pada gak ngerti tu jalan ada diseberang station. Bener-bener !
Kami seret koper kami menjelajah sepanjang jalan Dartmouth Road untuk menemukan wisma yang dimaksud, dan ternyata lumayan jaraknya dari station. Lumayan karena harus menyeret koper dan masih dalam kondisi baru turun dari pesawat. Tapi pada akhirnya, setelah ditempa keadaan London dimana jalan kaki adalah modal utama, jarak yang tadinya menurut kita jauh, ternyata ya masih jauh, cuma sudah biasa ajaahh... :D

Finally here! 

Safe house :p

Sign in di wisma, dan mendapatkan bed di lantai atas disebelah jendela dan pemanas ruangan, perfect! what a view lah menurutku. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 5 sore dan masih berniat untuk jalan sebentar mencari beberapa perlengkapan. Setelah berkenalan dengan roommates yang lain, aku sempatkan untuk rebahan sebentar untuk sedikit melepas lelah dan akhirnya terbangun pada pukul 2 pagi waktu London, 8 pagi waktu Indonesia bagian barat. Damn jetlag! Akhirnya hari itu tidak sempat berbelanja perlengkapan apapun. Selama minggu pertama di London, jam tidur malam tidak pernah jadi masalah karena terbiasa juga untuk tidur larut selama di Indonesia. Yang jadi masalah adalah, selarut apapun tidurnya, bangunnya pasti antara jam 3 atau jam 4 subuh. Sekali lagi, Damn Jetlag!
Tapi kondisi ini berangsur-angsur normal dalam 2 minggu pertama, dan jam bangun pagi berangsur-angsur naik, dari jam 3, 4, 5 sampai sekarang jam 8 pagi. Well, sholat subuh masih terkejar kok jam segitu, mataharinya belom naek! walaupun jadwal sholat subuh cuma sampai jam 7.40 :p

Wisma's Backyard, Apple and Pear trees!

Awesome first week in London, and the week after, and a month after and a year after!
Cheers :)